Postingan

Dear

I always wished I had the courage to tell all of this sooner when the chances still bright as the sunrise but I always know I was just a mere coward, an acute hypocrite. Dear,  I was a realist. I did not believe in love at the first sight but God damned me for such arrogance, I never forget the first time when our eyes met, there was no such thing as sparky as your eyes . I fell for those. For every different color diffracted from your iris.    As if you hold the entire starry galaxies inside of it.   I loved how your eyes expand while you talked about your passions, ambitions and dreams.  I couldn't take my eyes of it as if  those eyes welcomed me to confide in it. I was a hard-headed egoist, I rarely seek someone for advices and inspirations. But somehow I could hear your stories for a whole damn day without complaining and feeling the urge to judged and interfered. Usually, I wanted to take control, i like to make things straight to the plans and ru...

Berlanjut.

Banyak yang menunggu hari esok. Ada yang sudah merencanakan semua dengan harapan, ada yang memang jalannya sudah terbentang dengan gamblang terukur dengan skala capaian per satuan waktu. Namun ternyata hidup tidak se-linear itu, setidaknya hidupku. Ternyata ada kegagalan, kekecewaan, salah pengukuran, penolakan dan variabel diluar perencanaan. Masa depan kemudian bias, tak lagi terasa pijakannya, rute perjalanan tiba-tiba menyimpang, tujuan hilang dan cara untuk merekayasa hari esok tak lagi kupahami. Ah, namun hidup harus terus berlanjut, rencana seharusnya dinamis, berubah sesuai keadaan dan  beradaptasi sesuai situasi. Ternyata hidup yang benar-benar hidup adalah hidup yang dijalani sepenuhnya, ternyata perencanaan hanya sebuah cara untuk menjalani hidup, dan yang namanya 'cara' seharusnya ia datang setelah kita yakin kita berniat hidup. Setelah keyakinan membakar dengan mantap, seharusnya hidup menemukan caranya untuk berlanjut. Aku berniat menanggung semuanya, meski tubuh ...

Jadilah Abadi

Dunia terlalu kejam untuk orang-orang baik. Bahkan kepada orang yang mengajarkan arti kebaikan dan kebajikan kepada tunas yang tumbuh dengan gegabah. Kini tunas yang dirawat dengan cinta telah tumbuh jadi tanaman muda yang gamang. Ia mudah terombang gelombang dan terpukul angin. Namun lagi, Pohon Tua meneguhkan hidupnya dengan arahan dan bantuan. Ada hal yang tak pernah dipahami Sang tanaman muda, bahwa selalu ada pohon tua diatasnya yang melindunginya dari hujan dan badai. Sang tunas muda begitu percaya dirinya bisa tumbuh atas usahanya, yang sebenarnya tak pernah ada sedetikpun Ia tumbuh secara mandiri. Hidup bersiklus, yang Tua mulai meranggas, mulai sakit dan tak bisa selalu jadi pelindung. Daunnya berjatuhan menjadikan pupuk bagi yang muda untuk tumbuh jadi pelindung dan penyelamat mahluk-mahluk dibawahnya, dan ternyata sesuatu yang meranggas, tidak benar-benar mati. Dzat dan bagian tubuhnya hidup di mahluk yang lain. Menjadi darah, daging dan nutrisi. Ayah, hari ini engkau pergi....

Hiperbola

Beberapa bilang katanya tak ada yang lebih indah dari jingga kemerahan matahari tenggelam. Yang lain bilang kalau tak ada yang lebih menenangkan dari pada teduh cahaya rembulan. Ada juga yang bilang tak ada yang lebih syahdu dari bunyi desir ombak di lautan. Seorang teman bilang kalau tak ada yang lebih menakjubkan dari gemerlap cahaya bintang di langit yang cerah. Aku pun sependapat kalau bunyi rintik hujan adalah bunyi yang paling dirindukan di musim kemarau dan ada rasa yang tidak dapat dijelaskan ketika sejuk angin semilir berhembus halus di pegunungan. Namun apa gunanya itu semua, kalau memandangimu saja sudah kudapatkan semua itu.

Terlahir dari Badai.

Banyak rangkaian kata yang bisa diukir dalam sebuah kertas bernama kehidupan. Mengartikan konsepsi kehidupan bisa jadi sangat lebar pendefinisiannya. Bagiku hidup adalah kebersinambungan kegagalan dan percobaan. Hidup adalah sebuah kontestasi ketahanan dan penyesuaian metode diri dalam menghadapi persoalan. Hidup adalah tentang berusaha yang terbaik untuk menolak disia-siakan dan punah karena tuntutan keadaan. Pada dasarnya, setiap manusia yang semakin dewasa akan semakin sadar bahwa hidup bukanlah tempat bermain seperti yang digambarkan pada novel-novel roman karangan penulis ulung. Ada realita dimana : tak mungkin semua orang kaya, tak semua tinggal dirumah bak istana, tak semua memiliki kisah cinta paling romantis satu semesta dan tak semua dikaruniai keturunan yang serba sempurna. Ada fakta getir yang nyata bahwa diluar sana ada yang berusaha sedemikian rupa namun tetap nestapa, tak pernah di peluk romantika bahkan tak pernah dikaruniai keturunan. Memahami hidup berarti ...

Tentang Jarak

Semenjak berjarak, mungkin kita muak dengan kata-kata. Dua entitas yang merindu tak akan pernah bisa tenang dengan aksara. Kita selalu menyebut hubungan namun apa arti hubungan jika tak saling bersentuhan. Bagaimana perasaan akan menguat kalau perantara rasa hanya kata? Sedari dulu kita selalu mudah ketika saling melemparkan pertanyaan, namun paling tak pandai menyusun jawaban, apalagi ketika disuruh sama-sama memastikan. Kita juga sudah masuk kedalam fase dimana kutipan kata-kata bijak terdengar sangat menjijikan. Kita selalu berbenturan dengan realita yang tak pernah dijabarkan dalam kalimat-kalimat cinta. Dunia selalu saja berubah jadi neraka tak seperti yang digambarkan oleh penjaja surga di tempat ibadah. Kita pun sudah sangat Lelah menjelaskan prinsip, pandangan, jalan dan tujuan dari hidup kita pada orang-orang yang kenyataanya saling berlomba, bukan saling memperdulikan. Lalu kenapa kita masih memilih Bersama ketika dalam koneksi itu kita palsu? kita tertawa dalam tek...

Phenomenon.

Fenomena yang semakin kesini marak terjadi adalah jatuh cinta butuh validasi sosial, butuh di klarifikasi secara masif dan kontinyu. Seakan-akan hubungan perlu dipublikasikan dan diberitakan bahwa aku dan dia selalu baik-baik saja dengan mengunggahnya di platform media mainstream. Jatuh cinta berubah jadi alat validasi bahwa ketika ada hubungan atas dasar cinta maka aku eksis dan diakui. Aku dicintai, maka aku ada didunia seutuhnya. Terbentuklah standar sosial yang baru, manusia muda mulai merengek-rengek mengemis cinta, memohon validasi. Akibatnya? Cinta menjadi depresan murni bagi jiwa-jiwa yang labil. Sendirian di cap inkompeten dalam menarik perhatian lawan jenis, tak di sukai dan tak layak mendapatkan kasih sayang. Belum lagi pergaulan diisi oleh orang-orang tak berperasaan yang hobinya menjustifikasi pendirian yang sedikit berbeda dari manusia seumuran lainnya. Dalam berhubungan pun kini telah beresonansi dengan perubahan zaman. Aku meyakini bahwa hubungan yang sehat la...