Postingan

Tidak sekarang, nanti.

Banyak yang bertanya padaku, kenapa aku tak menjalin hubungan dengan perempuan di usia dimana gengsi pergaulan sangat menuntut itu. Entah yang membuatku sebagai lelaki sejati katanya, atau sekedar memberitahukan kalau aku 'laku' di mata pasar. Seperti yang beberapa orang tahu, jatuh cintaku sembunyi. Ketertarikan aku jadikan sebait puisi atau tulisan. Namun, tak ada yang aku eksekusi dengan gaya jaman sekarang, 'pacaran'.  Selain aku tak bisa menemukan logika yang tepat untuk gaya tersebut, mengartikan dan mengkorelasikan jatuh cinta dan mengikatnya dalam sebuah hubungan tak berdasar selalu mengganggu penalaranku terhadap berhubungan itu sendiri. Intinya, aku tak mau hubungan yang dibangun tanpa pondasi kokoh, hubungan datang dan pergi, tanpa jaminan dan kepastian. Basi. Setidaknya kupelajari itu dari yang dulu. Lagi pula, skenario terburukku jika aku sampai terpaksa menjalin hubungan itu dengan seorang perempuan. Aku tak tega dan tak rela. Ia harus tau susah ...

Jatuh Cinta Lagi.

Selang berapa waktu aku tak melihatmu, kupikir aku akan terbiasa dan bahkan sempat merasa lupa dengan apa yang kuhiperbolakan segalanya untukmu dulu. Hari juga berjalan selayaknya 24 jam yang lain. Tak terpengaruh. Lalu kumelihatmu lagi, dan lagi-lagi bukan di momen yang tepat, saat ada urusanku yang sedang tenggat. Aku tak tau apakah kau tau, aku memerhatikanmu dari sela-sela kerumunan. Mencuri waktu yang mungkin secara tak sengaja disediakan semesta untuk sekedar menatapmu. Dari analisaku, kau masih seperti dulu, saat rasa kagumku sedang di puncaknya. Kau masih dengan kesederhanaanmu, dengan senyum tipis yang kugilai dulu. Mungkin kau menjaga untuk tak tampil mencolok, tak mencari-cari perhatian dan itulah yang membuatku semakin jatuh hati dan jatuh lagi. Membuatku semakin tak bisa berkata-kata dan tak sanggup menatapmu lebih lama lagi. Walaupun aku ingin, setidaknya mata kita bertemu. Membuat ada tanda tanya besar muncul di hatiku, apakah masih ada ruang di hatimu untu...

Bicara Padaku.

Kalau kau diam saja, mana kutahu. Entah selama ini kita sama-sama masih menunggu, atau malah saling membiarkan. Kalau kamu tanya aku, kekaguman itu tetap ada. Ia bersemayam damai, terpupuk subur, tumbuh. Hanya saja ia bergerak dibawah tanah, masuk keruang-ruang sempit, meraba-raba, mencari jalan menggapaimu. Aku yakin hatimu bergumam, "kenapa tak kau dulu? kau 'kan laki-laki" . Ah sial, aku memang sepecundang itu. Tak ingin mengorbankan hubungan yang sudah kubangun, yang takut nantinya akan menjadi kecanggungan. Kau semakin sibuk dengan ambisimu, dibunuh rutinitas, semakin tak terima dengan kekosongan waktu, kau melaju cepat didepanku. Bahkan bayangmu tak sanggup aku iimbangi geraknya. Dan kuyakin kau tak mau menungguku yang masih belum dewasa. Belum selaras dengan pemahamanmu terhadap laki-laki yang kau idam-idamkan itu. Tentu saja aku canggung, mungkin sama canggungnya denganmu saat kita bertemu dan bahkan sebenarnya kita punya kesempatan untuk bicara lagi ...

Memaknai Ngopi dan Kopi.

Setelah hampir memutuskan untuk berhenti menulis di laman blog ini. Akhirnya jemariku memilih mengulang kembali untuk memencet tuts lagi. Logikaku juga masih dapat menalarkan hidup dan keunikan di dalamnya. Demi hal-hal tak penting, aku menulis lagi. Memasuki bulan Oktober, tanggal muda membuat dompetku agak berisi. Kiriman orang tua periode kali ini memang kuminta untuk dilebihkan sedikit, dengan dalih aku ingin keluar malam. Menjelajahi sela-sela Jogja yang belum kujamahi di paruh waktu yang kemarin. Mengingat waktuku di sini - kuharap - tak lama lagi. Warung kopi ke warung kopi kujamahi, mulai dari angkringan sederhana sampai cafe milenial dengan masing-masing kebijaksanaannya.  Semua mengesankanku dengan suasananya. Di angkringan kopi, aku menyadari bahwa kopi sudah tak perlu lagi ketenaran, tak perlu keahlian, tak perlu kekhususan. Di angkringan, kopi membumi, ia tak dibuat dengan mesin-mesin, kopi dijajakan sesederhana suasananya. Tak peduli latar belakangmu apa, ...

Masih Ingat Waktu Itu?

Masih ingat waktu itu? Saat ujung jemarimu merambat pelan menyusuri nadiku, terus menurun sampai akhirnya dapatku genggam lekat di setiap sela-sela jemariku. Lalu kau tatap aku seakan-akan Tuhan tak menciptakan waktu. Bagimu saat itu, mungkin asal ada aku, tak peduli semesta ini jadi apa. Asalkan genggaman tangan menjadi saksi bisu Tuhan saat dunia diporak-porandakan sekalipun, kau rela mengakhiri hidup dengan mata berbinar yang kau arahkan ke mataku dan kutangkap dengan tatapan lembut. Lalu larut. Di waktu yang lain, aku masih ingat ketika angin meniup rambutmu, membelainya lembut. Membuat rambutmu berkibas, meluapkan keindahan yang membuatku hampir kehilangan waras. Pegunungan dan kebun teh yang membentang membuat suasana makin khas, apalagi ketika sinar matahari jatuh pas menerpa wajahmu. Lalu apa lagi yang sanggup kukatakan? Sementara kata yang paling romantis tak pantas aku ucapkan, kupasrahkan saja kalimat indah yang tak dapat kudefinisikan pada senja, yang jatuh di wajah...

Hidup dan Kegilaan.

Mengenai bulan, bintang dan dingin angin. Malam itu aku sibuk memandangi kopiku, mengamati setiap endapannya bersatu. Kopi lokal Wonosido yang di Tubruk secara hati-hati memikat seluruh indraku, teresap ke dasar gelas di setiap hirupnya. Kubiarkan cangkir menarikku semakin dalam ke dimensi lain, diantara butir-butir bubuk kopi yang saling beradu, aku tercandu. Disisi cangkir, sebungkus tembakau menunggu sungut untuk di sulut. Kopi dan tembakau memang pas untuk teman meracau. Menertawakan hidup yang kacau. Sementara pendar lampu malam semakin geram, meminta anganku untuk segera larut dalam temaram. Hanyut dalam larut.  Insting-instingku menajam, memunculkan keinginan akan jawaban pertanyaan. Tentang hidup dan kegilaan. Dan mulai mengangankan kata-kata baru, seperti Sapardi dalam puisinya atau Jason Ranti dalam lagunya. Apakah aku bisa menemukan kata-kata sedalam "Kita abadi, yang fana itu waktu" atau "Kata yang paling cinta, kupasrahkan didalam dia" ? Mung...

Memulai Dari Minus.

Mempolakan abstraksi, mencerna pendar fraksi, menjadi berisi lalu meringkasnya menjadi arti. Manusia memang subyektif, merasa hal-hal yang pernah dilaluinya merupakan hal yang tak dapat dilakukan individu lain.  Merasa paling hebat, ingin diakui. Demi mengesampingkan hal itu, aku memulai perjalanan, tak jarang aku menemukan persimpangan, benar dan salah masih bias di mataku. Untuk itu aku menyelam dalam percobaan, tak jarang nyaman berkutat di lingkaran kesalahan akibat tak membatasi pergaulan. Namun, bagiku kesalahan juga bagian dari perjalanan. Aku mengekstraksi kebaikan dan kebermanfaatan didalamnya. Dibawah nol, aku pernah terpuruk. Tersesat disemak-semak kekeliruan. Saat tipu daya setan terdengar seperti nyanyian lagu malaikat. Begitu memikat sampai terikat. Aku tenggelam semakin dalam menuju kegelapan. Sempat tak bisa membedakan, semua semakin seakan-akan. Bias, segalanya semakin tak jelas.  Aku mencoba segalanya,  Aku menulis, 99% tulisan cinta dan...