Postingan

Ia Ada

Ia ada, namun tak tampak. Mungkin kau tak sadar, orang itu ada. Ia berkeliaran disekitarmu, mengamatimu, memandangimu. Mencari-cari waktu supaya dapat menangkap matamu saat matanya ingin bertemu. Supaya kau dapat lebih lekat memandang jiwanya, mengetahui maksudnya. Ia mengobrol denganmu, namun sadarkah kau kalau ia selalu menundukkan pandangannya? berbicara tanpa ada kontak mata. Tanpa menunjukkan adanya tanda-tanda rasa. Taukah kau ia menyembunyikannya? Dan ia berusaha tak bergelagat aneh supaya kau nyaman disekitarnya? Ia menjadi orang yang mengabaikan kadar intelektualistasnya, mengesampingkan logika dan kesibukannya, pangkat dan jabatannya, wibawa dan kharismanya. Mengembalikan diri ke titik nol. Titik terendah seorang pengagum. Menyatakan diri tak punya apa-apa dan mempersembahkan perasaan sederhana yang ia harap-harap untuk dibalas.  Taukah kau ia menghamba kepada semesta, agar sekiranya dapat diberikan kemudahan supaya kau dimudahkan bertemu dengannya? Taukah...

Berlalu

Aku melihatmu. Dari seberang sebuah ladang kehijauan, saat kau dengan gaun putihmu melagukan senandung syahdu tentang kehidupan. Aku ingin mencoba menghampirimu, tapi aku takut mengganggu senandungmu. Aku takut mengotori gaun putihmu. Lalu tak ada lagi kesempatan untuk sekedar menatapmu. Untuk sekedar mengagumimu. Aku tak tahu kau sadar atau tidak, aku tak tahu kau menyadari keberadaanku atau tidak, aku tak tahu kau merasakan maksudku atau tidak. Namun setidaknya, lihatlah mataku. Balaslah tatapanku, carilah. Apa ada kau didalam sana? Apa kau sama sekali tidak melihat ada seseorang yang mengharap balasan didalamnya?  Kekaguman itu menyakitkan, akui saja. Aku bukan seorang pengemis, yang meminta. Aku bukan binatang buas, yang menerjang. Aku bukan aktor, yang mencari perhatian. Aku diriku, yang tak mampu membuat retorika representatif dari segala kekaguman yang tumbuh. Aku diriku, yang tak mampu menunjukkan gestur kekaguman yang nyata. Aku diriku, yang bahkan tak mampu mem...

Bimbang

Aku tak tahu bagaimana caranya, apa aku harus jatuh cinta dengan mudah seperti orang-orang? atau aku harus menunda-nunda untuk memantapkan penilaian sambil dicemooh orang-orang? Bagiku, jatuh cinta itu membingungkan. Dan anehnya, malah orang lain yang memberikan tuntutan. Sedangkan, untuk mematangkan dan memantaskan diri saja masih dinomor sekiankan. Lalu untuk apa jatuh cinta kalau hanya untuk menghindari kesendirian dan mengisi kebosanan? dan ketika jatuh cinta sudah membosankan, apa yang harus kita lakukan? Datang lalu tinggalkan? lalu setelah beberapa waktu kemudian. Akhirnya kita sesalkan? Berharap kesalahan bisa dikembalikan dan dimaafkan? Lalu jika segala penilaian hanya dari penampilan apa gunanya Tuhan menciptakan perasaan? Apa cinta hanya datang dari egoisnya penilaian pengelihatan? Sementara hak-hak perasaan terabaikan? Dan ketika menjalin hubungan, kenapa manusia inginkan kesempurnaan? Ketika ada kecacatan berarti ada ketidak cocokkan, kemudian cerit...

Rupanya Kamu

Jangan tertawai aku, sekarang dari kejauhan, kamu dengan senyum sarkasmu itu. Tertawa ringan dengan nada mengejek. Aku dengan sisi liarku, dan kamu dengan sisi lembutmu. Aku dengan ketidakpedulianku dengan apapun, dan kamu dengan sifatmu yang menjagaku untuk sekedar peduli dengan diriku sendiri. Aku tak pernah menoleh ke arahmu, namun kau yang tetap mau peduli denganku apapun yang kuminta kamu untuk memperdulikanku. Hanya saat aku kembali memintamu untuk peduli, lagi-lagi dengan senyum lembut yang penuh tanda tanya itu. Ia memanggilku, untuk berbincang dan mendengarkan nada lembut yang selalu keluar dari bergeraknya bibirmu itu. Setiap dan setiap saat, aku mencoba berbincang denganmu. Bibirmu selalu menyambut ucapan pembukaku dengan senyum yang lebar merekah, dengan tatapan dan dagu sedikit menunduk teduh . Aku terkesima. Hanya saja aku tak bisa membalasnya. Kalau ada harga yang bisa kubayar, katakan saja. Namun kamu pantas untuk laki-laki dengan kehormatan lebi...

Kamu-ku

Kamu api unggunku, yang menjadi tempatku menjatuhkan penat yang teramat pekat. Menumpas lelahnya rutinitas yang semakin keparat. Mengubahnya menjadi bara api penyemangat, hangat. Kamu hujanku, yang mana saat segala suasana pecah mengering. Tetesmu mengusap letih dan kakunya raga lelahku. Membirukan isi kepala yang tersumbat karena pening. Mengalirkan peluh keringat dari kusamnya lekuk wajah, menjadi sumringah, cerah. Kamu lautku, yang dengan bebasnya aku meneriakkan keluhan-keluhanku. Yang selalu balut dengan sisi kuatku, dan kuhempaskan sekarang padamu . Sambil menangis memekik, mengigau, meracau. Kamu awanku, yang setiap hari kuharap-harap keteduhannya. Melindungiku dalam temaram bayang kelabumu. Menghindarkanku dari tersengatnya kalbu oleh panas yang tak perlu. Hingga akhirnya kurebahkan tubuhku, menoreh ke atas, lalu melagu. Kamu tulisanku, yang kususun dengan teliti. Ku ukir semestaku aksara per aksara.  Diatas selembar kertas dalam ...

Kaki untuk kembali

Aku akan bercerita tentang kakiku, yang tak pernah tahan untuk berhenti melangkah ke tempat yang baru. Ia mudah bosan, mudah muak dengan kemonotonan. Sulit sekali menenangkan, makanya ia sering kutawarkan janji-janji, bahwa disuatu hari akan kuajak ia pergi kepelosok negeri. Barulah ia tenang dan mencoba mengerti. Dalam beberapa hal aku setuju dengannya, bahwa rutinitas itu memang sangat membosankan. Tapi begitu yang orang-orang selalu lakukan, dan terasa sangat aneh kalau arusnya kulawan. Bahkan orang-orang yang berhasil melakukan rutinitas dengan baik , akan dapat predikat baik dikelasnya. Lalu orang-orang mulai menilai bahwa rutinitas itu baik dan perlu. Disisi lain orang yang keluar dari kemonotonan itu dikecam. Dianggap orang-orang penista kebiasaan. Kakiku membawaku menuju banyak hal. Ia membawaku kepada orang baru, ke tempat-tempat baru, ke ujung-ujung daratan bahkan mendorongku menyelami lautan. Ia membawaku kepada kebaikan-kebaikan baru. Ia membawaku menjadi pri...

Sepotong Rindu

Semenjak kita berjarak dan lama tak saling bertatap. Aku penasaran, ada rasa yang sangat mencekam yang bersemayam. Entah di organku sebelah mana, terasa sangat berat seperti serasa ingin memberontak dan mengoyak. Belakangan ini, aku belum sanggup mendefinisikan. Namun lama kelamaan aku mengerti. Ini resikonya. Resikonya aku mengikatmu. Dan memang setelah kurasakan lebih dalam, rasa ini muncul semenjak kita berpisah, lain tempat, lain waktu. Orang-orang menyebutnya rindu, tapi semua orang yang kuminta penjelasannya. Bagaimana bentuk rindu itu? Satu, sepuluh, seratus orang kutanya. Rindu versi mereka berbeda-beda. Rindu ini kejam, karena bagaimanapun kamu menggambarkannya ke orang lain. Rindu akan tetap subyektif. Dan akan selalu tergambarkan dengan bentuk yang egois. Mengapa Tuhan menciptakan rindu? mungkin dahulu kala, Adam dan Hawa, dilemparkan ke Bumi dengan terpisah jutaan kilometer jauhnya. Tuhan memberikannya dua potong rindu sebagai ja...