Postingan

Aroma Kopi dan Asap Tembakau

Sebagai manusia yang bernurani, waktu itu aku pergi mencari hati. Yang mungkin sudah menghitam akibat forum-forum diskusi yang tak kunjung menemukan solusi karena di dalamnya penuh dengan egoisme yang saling ber-oposisi. Membawa kepentingan masing-masing yang katanya demi kepentingan bersama. Lucu bukan? Singkatnya aku pergi, bersama teman dengan seragam visi, untuk menenangkan diri. Sekedar menikmati kopi dan tembakau sebagai kearifan negeri ini. Bersenda gurau membicarakan hal-hal tak penting yang tak sengaja kami bahas sampai pagi. Ditemani secangkir kopi yang entah mengapa awet sekali walaupun di hirup seperti setengah detik sekali. Tak lupa tembakau asuhan petani pribumi yang setiap hela nafas kami hembuskan, mengandung cerita yang terbakar melalui tenggorokan ini. Aku merasa ini beda sekali dengan forum diskusi yang kualami, apakah tak bisa diskusi dijadikan media yang sama seperti yang kulakukan dengan kopi dan tembakau ini? tak perlu membawa idealisme pribadi, kepent...

Ignoran.

Hari ini, 12:30. Sedari kemarin aku memikirkan, ternyata ada hawa yang entah mengapa dengan senyum sederhananya, membuatku ragu-ragu. Dengan bicaranya yang begitu padu, dan aku yang selama ini tak acuh atas sikapnya yang teduh itu. Dan perhatian-perhatian kecil yang selalu ia tanyakan tentang masalah-masalahku. Tentang bagaimana ia menyemangatiku, membuatku mengaduh tak tentu. Aku hanya bisa berharap, kita tak saling membiarkan, dan membuyarkan. Saat ada rasa yang tumbuh diantara kita, tak kita pikirkan. Aku harap kita tak beranggapan, bahwa rasa itu palsu dan salah kaprah. Bahwa hati kita tak mungkin bertemu diujung waktu, diakhir pertemuan yang tak mungkin menyisakan harap. Aku hanya ingin berharap bahwa kemungkinan selalu ada, dan aku ingin diriku memahaminya sebelum aku ingin kau juga begitu. Aku ingin sadar, diujung waktu nanti. Setelah ribuan kilometer kita berpisah, setelah benua menjauhkan kita. Selalu ada kemungkinan aku tertambat di pelabuhan, pulang ke sebuah ban...

Biarkan Begitu

Aku memilih jalanku. Pilihanku yang membentukku, dan membentuk hari-hari yang akan datang untukku. Sama halnya, aku tak bisa memintamu untuk mengertiku dan mengakuiku. Bagimu aku begitu, kau menunggu-nunggu aku menghampirimu dan meneriakkan kata-kata yang sudah dari dahulu ditunggu lantangnya oleh telingamu, dan bagiku aku begini. Aku yang begini dan anehnya kau berusaha mengerti, mencoba memberikan senyuman atas apa yang kupilih sendiri. Menyemangatiku dari arah yang tak bisa kusangka dan mana tahu, aku selamat sejauh ini karena munajatmu kepada pemilik semesta atas kebijaksanaannya menciptakan aku untukmu. Yang tak kusangka, kau pilih aku sebagai objek atas kekagumanmu. Aku hargai itu. Tapi aku begini, terlalu banyak pertimbangan dan perhitungan untuk memulai sesuatu untukmu. Dan bahkan aku sendiri hanya mengkhayal, akan perasaanmu padaku. Seliar-liarnya aku mengkhayal untuk menenangkan diriku sendiri. Bahwa ada orang yang masih menyukai, dengan banyak noda di sisi gelap...

Ia Ada

Ia ada, namun tak tampak. Mungkin kau tak sadar, orang itu ada. Ia berkeliaran disekitarmu, mengamatimu, memandangimu. Mencari-cari waktu supaya dapat menangkap matamu saat matanya ingin bertemu. Supaya kau dapat lebih lekat memandang jiwanya, mengetahui maksudnya. Ia mengobrol denganmu, namun sadarkah kau kalau ia selalu menundukkan pandangannya? berbicara tanpa ada kontak mata. Tanpa menunjukkan adanya tanda-tanda rasa. Taukah kau ia menyembunyikannya? Dan ia berusaha tak bergelagat aneh supaya kau nyaman disekitarnya? Ia menjadi orang yang mengabaikan kadar intelektualistasnya, mengesampingkan logika dan kesibukannya, pangkat dan jabatannya, wibawa dan kharismanya. Mengembalikan diri ke titik nol. Titik terendah seorang pengagum. Menyatakan diri tak punya apa-apa dan mempersembahkan perasaan sederhana yang ia harap-harap untuk dibalas.  Taukah kau ia menghamba kepada semesta, agar sekiranya dapat diberikan kemudahan supaya kau dimudahkan bertemu dengannya? Taukah...

Berlalu

Aku melihatmu. Dari seberang sebuah ladang kehijauan, saat kau dengan gaun putihmu melagukan senandung syahdu tentang kehidupan. Aku ingin mencoba menghampirimu, tapi aku takut mengganggu senandungmu. Aku takut mengotori gaun putihmu. Lalu tak ada lagi kesempatan untuk sekedar menatapmu. Untuk sekedar mengagumimu. Aku tak tahu kau sadar atau tidak, aku tak tahu kau menyadari keberadaanku atau tidak, aku tak tahu kau merasakan maksudku atau tidak. Namun setidaknya, lihatlah mataku. Balaslah tatapanku, carilah. Apa ada kau didalam sana? Apa kau sama sekali tidak melihat ada seseorang yang mengharap balasan didalamnya?  Kekaguman itu menyakitkan, akui saja. Aku bukan seorang pengemis, yang meminta. Aku bukan binatang buas, yang menerjang. Aku bukan aktor, yang mencari perhatian. Aku diriku, yang tak mampu membuat retorika representatif dari segala kekaguman yang tumbuh. Aku diriku, yang tak mampu menunjukkan gestur kekaguman yang nyata. Aku diriku, yang bahkan tak mampu mem...

Bimbang

Aku tak tahu bagaimana caranya, apa aku harus jatuh cinta dengan mudah seperti orang-orang? atau aku harus menunda-nunda untuk memantapkan penilaian sambil dicemooh orang-orang? Bagiku, jatuh cinta itu membingungkan. Dan anehnya, malah orang lain yang memberikan tuntutan. Sedangkan, untuk mematangkan dan memantaskan diri saja masih dinomor sekiankan. Lalu untuk apa jatuh cinta kalau hanya untuk menghindari kesendirian dan mengisi kebosanan? dan ketika jatuh cinta sudah membosankan, apa yang harus kita lakukan? Datang lalu tinggalkan? lalu setelah beberapa waktu kemudian. Akhirnya kita sesalkan? Berharap kesalahan bisa dikembalikan dan dimaafkan? Lalu jika segala penilaian hanya dari penampilan apa gunanya Tuhan menciptakan perasaan? Apa cinta hanya datang dari egoisnya penilaian pengelihatan? Sementara hak-hak perasaan terabaikan? Dan ketika menjalin hubungan, kenapa manusia inginkan kesempurnaan? Ketika ada kecacatan berarti ada ketidak cocokkan, kemudian cerit...

Rupanya Kamu

Jangan tertawai aku, sekarang dari kejauhan, kamu dengan senyum sarkasmu itu. Tertawa ringan dengan nada mengejek. Aku dengan sisi liarku, dan kamu dengan sisi lembutmu. Aku dengan ketidakpedulianku dengan apapun, dan kamu dengan sifatmu yang menjagaku untuk sekedar peduli dengan diriku sendiri. Aku tak pernah menoleh ke arahmu, namun kau yang tetap mau peduli denganku apapun yang kuminta kamu untuk memperdulikanku. Hanya saat aku kembali memintamu untuk peduli, lagi-lagi dengan senyum lembut yang penuh tanda tanya itu. Ia memanggilku, untuk berbincang dan mendengarkan nada lembut yang selalu keluar dari bergeraknya bibirmu itu. Setiap dan setiap saat, aku mencoba berbincang denganmu. Bibirmu selalu menyambut ucapan pembukaku dengan senyum yang lebar merekah, dengan tatapan dan dagu sedikit menunduk teduh . Aku terkesima. Hanya saja aku tak bisa membalasnya. Kalau ada harga yang bisa kubayar, katakan saja. Namun kamu pantas untuk laki-laki dengan kehormatan lebi...