Postingan

Ekspektasimu.

Tentang kamu yang selalu mengeluhkanku. Kamu selalu bercerita dengan segala mispersepsimu kalau kamu tak suka lelaki tipe begini, sambil menyebutkan keburukan-keburukan atau kebiasaan kurang baik yang belum bisa kutinggalkan. Lalu kamu memalingkan pandangan, berhenti memandangku sebagai kemungkinan. Kamu mengidamkan lelaki sempurna sampai kamu lupa menyempurnakan diri. Sampai suatu saat kamu sadar lelaki sempurna itu tak ada dan dirimu tak mungkin bisa sempurna. Kenapa tidak kamu ubah saja ekspektasimu?  Tak maukah kamu jatuh cinta dengan lelaki biasa dengan banyak kebiasaan yang tak kamu suka, lalu dengan rendah hati kamu membangunkannya, membantunya menemukan titik balik di hidupnya, membuat ia laki-laki seutuhnya. Membukakan mata bahwa ia menanggung beban berat sebagai lelaki, sebagai seseorang yang suatu saat mengemban keluarga atau bahkan bangsa. Bukankah jatuh cinta itu saling membangun? Bukankah jatuh cinta itu proses? Apa ekspektasiku kontra dengan realitan...

Tumpuan

Pagi ini menyejukkan, lebih menuju dingin sebenarnya. Bagai seorang pesakitan, aku ringkih. Aku menangis, bersedih, depresi, stres dan khawatir. Realitas sangat kejam, karena sudah terbiasa sakit, mengaduh pun tak pernah kuungkapkan. Kutampilkan ke tidak pedulianku ke segala hal. Padahal aku memikirkan setiap detailnya dan bagaimana aku harus menyikapinya. Hanya kata-kata yang dapat kurangkai dalam beberapa paragraf, sambil kutekstualkan tangisanku. Mengaduh kepada siapapun kurasa tak perlu, mereka tak ada waktu untuk mendengarkan keluhan orang asing dan kuyakin mereka tak benar-benar peduli. Jadi kupilih jalan pelarian, meyakinkan diri bahwa diri sendirilah yang menentukan bahagia atau tidak, dan kulakukan perjalanan. Tak lain untuk melupakan kekhawatiran, dan menemukan diriku sendiri, yang sebenar-benarnya. Sendirian, bukan berarti tak ada yang mau menemani, tapi aku lebih nyaman begitu. Sendirian berarti memilih untuk sendiri, dan memuaskan egoku. Dan aku paham sekali re...

Selamat Jatuh Cinta

Cerita tentangku, yang telah kalah. Naasnya ia cepat sekali mendeklarasikan labuhan barunya. Kekalahanku tampak gamblang dibuatnya. Perjuanganku rasanya tak berarti apa-apa sekarang. Selama aku gagal dan kalah, tak pernah sepecundang ini rasanya.  Tulisan ini kubuat dengan maksud memproklamasikan rasa, dalam tempo yang sesakit-sakitnya. "Aku, mewakili seluruh perasaan dan hiperbola yang pernah tumpah-ruah mendanau. Mewakili seluruh lagu-lagu dan untaian sajak puisi yang telah kau buat kacau. Mewakili doa-doa yang kuracau. Mewakili seluruh perjalanan dan petualangan yang ditolak 'rumah' untuk pulang dari rantau. Yang pada akhirnya hanya membuahkan patah hati dan risau. Dengan ini aku menyatakan : Selamat Jatuh Cinta" Dan kata terakhir yang kutangkap dari seluruh perilaku dan gerak-gerikmu mengatakan. "Selamat Merelakan"

Aku Kalah.

Pantas saja. Pikirku selama ini tak digubris olehmu. Ternyata ia yang kau agungkan lebih menarik dan lebih dapat menjaminmu di masa depanmu. Kuyakin bagimu, ia dapat membahagiakanmu dengan cara yang lebih nyata daripada aku, seseorang yang hanya dapat menjanjikan kata-kata dan membanggakan mimpi-mimpinya. Ia juga lebih pandai berpuisi dan merangkai kata bahkan sudah menjadi karya sastra yang terbit dan dijual di toko buku terkemuka. Puisinya mengundang popularitas dan menaikkan elektabilitas dirinya dibanding aku. Tapi hanya untuk kau tau, puisiku tak mencari popularitas. Ia bergerilya di ruang-ruang sempit, dengan banyak torehan sakit dan diciptakan hanya untukmu seorang. Bukan untuk khalayak, bukan untuk orang menyatakan puisiku layak. Puisiku lebih murni, yang tercipta dari hati yang koyak. Ia bahkan menuntut ilmu ditempat yang lebih bergengsi dari pada aku, lebih terpandang dimatamu dan kuyakin juga orang tuamu. Lebih dapat menaikkan derajatmu, lebih dapat menghidupi dan m...

Karsa.

Mari menikmati anugrah cinta Sang Kuasa sesuai kehendak yg tertanam secara nyata. Aku ingin mencinta dengan saling bertukar senyum dan saling memandangi saat kita pergi ke pucuk-pucuk bukit untuk sekedar melihat awan atau lautan. Lalu menyadari kita adalah bagian dari komponen semesta yang padu dan sedang menyatakan untuk membaku menjadi satu. Sambil berpegangan tangan, mulai saling menaruh harapan dan melakukan beberapa persiapan untuk tantangan yang ada di depan. Aku ingin mencinta dengan menua bersama , dengan bahagia yang sederhana, apa adanya,  tanpa harus memikirkan gengsi untuk mengesankan manusia lainnya. Memprinsipkan diri bahwa bahagia hanya milik kita dan untuk kita. Dengan keyakinan asal berdua, tak peduli tujuannya kemana, tak peduli esok makan apa, mau mendaki atau menurun. Kita akan sampai ditujuan yang sama, yaitu kebahagiaan yang kita usahakan bersama. Aku ingin mencinta dengan menulis mimpi yang sama. Walau dengan cara berbeda sampai berpisah benua....

Merajut Asa Bersama

Jatuh Cinta. Dengan melankolisnya aku terpaksa mengangkat tema, yang bagiku masih bias maknanya. Namun untuk sekadar mentekstualkan pemahamanku tak apa, toh hanya untukku. Pembaca hanya bonus. Bicara tentang 'bersama' dan korelasinya dengan jatuh cinta. Mungkin perlu pemaknaan yang lebih dalam. 'Bersama' yang sesungguhnya tak bisa hanya dicapai dengan ungkapan 'i love you'   dan dibalas 'i love you too'. 'Bersama' berarti membangun segalanya dari nol kemudian menjaganya dari segala badai yang menerpa sampai waktu yang  tak hingga. Menaklukkan ketidakmungkinan bernama egoisme untuk mengedepankan kebaikan dan tidak menganggap lagi hidup sebagai satu melainkan dua individu yang sedang berusaha jadi satu. Dan semua dilakukan 'bersama', tidak saling menuntut untuk memenuhi kebutuhan salah satu. Tidak menuntut untuk secepatnya mewujudkan janji-janji dan tidak memaksakan hal-hal yang sebenarnya belum mampu untuk di wujudkan salah sa...

Tak Utuh.

Mengenai aku, yang  separuh. Mungkin dia sudah tau dari mulut teman-temannya, tentang aku dan susah yang kuukir dalam tulisanku. Semenjak hiperbolaku tersebar ke khalayak, seakan mereka tau kemana tulisan cengengku tertuju. Sebagian salah, sebagian lagi benar. Dan yang benar ini, menyampaikan informasinya kepadanya. Mungkin ia sudah baca hampir semua dan akhirnya paham kalau 'dia' yang kupuja dalam tulisanku benar-benar dia. Namun, apadaya. Dari gelagatnya, rupanya hanya aku yang bergetar ketika tak sengaja menangkap matanya. Rupanya hanya aku yang salah tingkah ketika berjalan menujunya. Dan rupanya memang hanya aku yang secara liar menulisnya dalam tulisan-tulisanku. Ia membuatku semakin ingin menertawakan diriku sendiri. Ini penolakan, rupanya. Hari-hari indah dan ukiran cita-cita diwaktu yang akan datang rupanya hanya proyeksi yang fiktif. Hanya gambaran perasaan yang utopis. Kedatarannya yang aku perhatikan itu bukan hal buatan, aku tidak menarik dimatanya. M...