Postingan

Masih Ingat Waktu Itu?

Masih ingat waktu itu? Saat ujung jemarimu merambat pelan menyusuri nadiku, terus menurun sampai akhirnya dapatku genggam lekat di setiap sela-sela jemariku. Lalu kau tatap aku seakan-akan Tuhan tak menciptakan waktu. Bagimu saat itu, mungkin asal ada aku, tak peduli semesta ini jadi apa. Asalkan genggaman tangan menjadi saksi bisu Tuhan saat dunia diporak-porandakan sekalipun, kau rela mengakhiri hidup dengan mata berbinar yang kau arahkan ke mataku dan kutangkap dengan tatapan lembut. Lalu larut. Di waktu yang lain, aku masih ingat ketika angin meniup rambutmu, membelainya lembut. Membuat rambutmu berkibas, meluapkan keindahan yang membuatku hampir kehilangan waras. Pegunungan dan kebun teh yang membentang membuat suasana makin khas, apalagi ketika sinar matahari jatuh pas menerpa wajahmu. Lalu apa lagi yang sanggup kukatakan? Sementara kata yang paling romantis tak pantas aku ucapkan, kupasrahkan saja kalimat indah yang tak dapat kudefinisikan pada senja, yang jatuh di wajah...

Hidup dan Kegilaan.

Mengenai bulan, bintang dan dingin angin. Malam itu aku sibuk memandangi kopiku, mengamati setiap endapannya bersatu. Kopi lokal Wonosido yang di Tubruk secara hati-hati memikat seluruh indraku, teresap ke dasar gelas di setiap hirupnya. Kubiarkan cangkir menarikku semakin dalam ke dimensi lain, diantara butir-butir bubuk kopi yang saling beradu, aku tercandu. Disisi cangkir, sebungkus tembakau menunggu sungut untuk di sulut. Kopi dan tembakau memang pas untuk teman meracau. Menertawakan hidup yang kacau. Sementara pendar lampu malam semakin geram, meminta anganku untuk segera larut dalam temaram. Hanyut dalam larut.  Insting-instingku menajam, memunculkan keinginan akan jawaban pertanyaan. Tentang hidup dan kegilaan. Dan mulai mengangankan kata-kata baru, seperti Sapardi dalam puisinya atau Jason Ranti dalam lagunya. Apakah aku bisa menemukan kata-kata sedalam "Kita abadi, yang fana itu waktu" atau "Kata yang paling cinta, kupasrahkan didalam dia" ? Mung...

Memulai Dari Minus.

Mempolakan abstraksi, mencerna pendar fraksi, menjadi berisi lalu meringkasnya menjadi arti. Manusia memang subyektif, merasa hal-hal yang pernah dilaluinya merupakan hal yang tak dapat dilakukan individu lain.  Merasa paling hebat, ingin diakui. Demi mengesampingkan hal itu, aku memulai perjalanan, tak jarang aku menemukan persimpangan, benar dan salah masih bias di mataku. Untuk itu aku menyelam dalam percobaan, tak jarang nyaman berkutat di lingkaran kesalahan akibat tak membatasi pergaulan. Namun, bagiku kesalahan juga bagian dari perjalanan. Aku mengekstraksi kebaikan dan kebermanfaatan didalamnya. Dibawah nol, aku pernah terpuruk. Tersesat disemak-semak kekeliruan. Saat tipu daya setan terdengar seperti nyanyian lagu malaikat. Begitu memikat sampai terikat. Aku tenggelam semakin dalam menuju kegelapan. Sempat tak bisa membedakan, semua semakin seakan-akan. Bias, segalanya semakin tak jelas.  Aku mencoba segalanya,  Aku menulis, 99% tulisan cinta dan...

Ekspektasimu.

Tentang kamu yang selalu mengeluhkanku. Kamu selalu bercerita dengan segala mispersepsimu kalau kamu tak suka lelaki tipe begini, sambil menyebutkan keburukan-keburukan atau kebiasaan kurang baik yang belum bisa kutinggalkan. Lalu kamu memalingkan pandangan, berhenti memandangku sebagai kemungkinan. Kamu mengidamkan lelaki sempurna sampai kamu lupa menyempurnakan diri. Sampai suatu saat kamu sadar lelaki sempurna itu tak ada dan dirimu tak mungkin bisa sempurna. Kenapa tidak kamu ubah saja ekspektasimu?  Tak maukah kamu jatuh cinta dengan lelaki biasa dengan banyak kebiasaan yang tak kamu suka, lalu dengan rendah hati kamu membangunkannya, membantunya menemukan titik balik di hidupnya, membuat ia laki-laki seutuhnya. Membukakan mata bahwa ia menanggung beban berat sebagai lelaki, sebagai seseorang yang suatu saat mengemban keluarga atau bahkan bangsa. Bukankah jatuh cinta itu saling membangun? Bukankah jatuh cinta itu proses? Apa ekspektasiku kontra dengan realitan...

Tumpuan

Pagi ini menyejukkan, lebih menuju dingin sebenarnya. Bagai seorang pesakitan, aku ringkih. Aku menangis, bersedih, depresi, stres dan khawatir. Realitas sangat kejam, karena sudah terbiasa sakit, mengaduh pun tak pernah kuungkapkan. Kutampilkan ke tidak pedulianku ke segala hal. Padahal aku memikirkan setiap detailnya dan bagaimana aku harus menyikapinya. Hanya kata-kata yang dapat kurangkai dalam beberapa paragraf, sambil kutekstualkan tangisanku. Mengaduh kepada siapapun kurasa tak perlu, mereka tak ada waktu untuk mendengarkan keluhan orang asing dan kuyakin mereka tak benar-benar peduli. Jadi kupilih jalan pelarian, meyakinkan diri bahwa diri sendirilah yang menentukan bahagia atau tidak, dan kulakukan perjalanan. Tak lain untuk melupakan kekhawatiran, dan menemukan diriku sendiri, yang sebenar-benarnya. Sendirian, bukan berarti tak ada yang mau menemani, tapi aku lebih nyaman begitu. Sendirian berarti memilih untuk sendiri, dan memuaskan egoku. Dan aku paham sekali re...

Selamat Jatuh Cinta

Cerita tentangku, yang telah kalah. Naasnya ia cepat sekali mendeklarasikan labuhan barunya. Kekalahanku tampak gamblang dibuatnya. Perjuanganku rasanya tak berarti apa-apa sekarang. Selama aku gagal dan kalah, tak pernah sepecundang ini rasanya.  Tulisan ini kubuat dengan maksud memproklamasikan rasa, dalam tempo yang sesakit-sakitnya. "Aku, mewakili seluruh perasaan dan hiperbola yang pernah tumpah-ruah mendanau. Mewakili seluruh lagu-lagu dan untaian sajak puisi yang telah kau buat kacau. Mewakili doa-doa yang kuracau. Mewakili seluruh perjalanan dan petualangan yang ditolak 'rumah' untuk pulang dari rantau. Yang pada akhirnya hanya membuahkan patah hati dan risau. Dengan ini aku menyatakan : Selamat Jatuh Cinta" Dan kata terakhir yang kutangkap dari seluruh perilaku dan gerak-gerikmu mengatakan. "Selamat Merelakan"

Aku Kalah.

Pantas saja. Pikirku selama ini tak digubris olehmu. Ternyata ia yang kau agungkan lebih menarik dan lebih dapat menjaminmu di masa depanmu. Kuyakin bagimu, ia dapat membahagiakanmu dengan cara yang lebih nyata daripada aku, seseorang yang hanya dapat menjanjikan kata-kata dan membanggakan mimpi-mimpinya. Ia juga lebih pandai berpuisi dan merangkai kata bahkan sudah menjadi karya sastra yang terbit dan dijual di toko buku terkemuka. Puisinya mengundang popularitas dan menaikkan elektabilitas dirinya dibanding aku. Tapi hanya untuk kau tau, puisiku tak mencari popularitas. Ia bergerilya di ruang-ruang sempit, dengan banyak torehan sakit dan diciptakan hanya untukmu seorang. Bukan untuk khalayak, bukan untuk orang menyatakan puisiku layak. Puisiku lebih murni, yang tercipta dari hati yang koyak. Ia bahkan menuntut ilmu ditempat yang lebih bergengsi dari pada aku, lebih terpandang dimatamu dan kuyakin juga orang tuamu. Lebih dapat menaikkan derajatmu, lebih dapat menghidupi dan m...